I’m Sorry, I Still Love You
by Cheverly Jin
Lee Jinki ‘SHINee’ and You
AU, Sad, Angst | Ficlet | PG
Disclimer: The cast(s) belong to God and themself. Storyline is mine, pure my imagination.
***
Setapak demi setapak kutelusuri lorong putih ini. Suasananya yang tenang serta bau obat-obatan yang menusuk hidungku sudah menjadi ciri khasnya. Keadaannya jauh dari kata ramai mengingat daerah yang kudatangi ini merupakan kawasan VIP, tak mudah memasuki tempat ini terkecuali anggota keluarga atau mereka yang memang memiliki kartu izin khusus sepertiku.
Tinggal beberapa langkah lagi aku mendekat ke sebuah pintu bernomor 1412, sebuah ruangan yang memang menjadi tujuan utamaku. Kubuka pintu itu secara perlahan dan di sana terlihat tubuhnya yang terbaring dengan wajah damai seakan tidak memiliki beban, berkebalikan denganku yang datang dengan wajah sayu.
Entah berapa lama waktu yang telah kuhabiskan untuk menantinya. Detik demi detik kulalui tanpa ditemani canda tawanya yang selalu bisa mengembalikan moodku. Tanpa sadar cairan bening itu berjatuhan membentuk aliran sungai kecil yang membasahi pipiku. Kilas balik berbagai kenangan bagaikan rol film yang sedang memutar ulang cerita di dalamnya.
Kugigit bibir bawahku menahan isak tangis agar tak terdengar oleh yang lain. Dari apa yang kudengar, orang yang terbaring koma itu memang tidak bisa menggerakkan tubuhnya namun mereka masih bisa mendengar apa yang orang bicarakan walaupun mereka tak bisa merespon seperti halnya orang normal.
Kuraih sebelah tangannya yang selalu berada di tempat yang sama, tak berpindah barang secuil pun. Kugenggam dengan kedua tanganku setelah kucium punggung tangannya yang terasa dingin namun masih menyimpan sedikit kehangatan di dalamnya.
“Apa yang kau mimpikan? Apa begitu indah sehingga kau betah berada di sana? Apa kau tak merindukanku di sini?” Tangan yang kugenggam mulai basah terkena air mataku, “Aku…sangat merindukanmu. Kumohon…cepatlah bangun, Jinki-ya. Aku ingin melihatmu yang hanya menatapku seorang, merasakan kehangatanmu, mendengar senandungmu..aku merindukan semua yang berhubungan denganmu, Jinki. Sampai kapan kau akan membiarkanku seperti ini?” ucapku lirih yang sedikit tersendat-sendat.
Sekali lagi sesak itu menghampiriku. Walaupun aku sudah menjalaninya cukup lama namun aku masih tak terbiasa. Banyak orang yang mendukungku, memberiku dorongan semangat namun tetap tak bisa mengisi kekosongan hati ini. Hidupku benar-benar hampa tanpanya. Separuh jiwaku. Oksigenku.
Bulir-bulir itu kembali berjatuhan. Bendungan air mata tak mampu lagi kutahan karena besarnya tekanan yang diberikan. Genggaman tanganku semakin erat hingga akhirnya kutautkan jari-jari kami, berusaha menyalurkan rasa rinduku yang sudah tertumpuk banyak. Hingga akhirnya aku harus menyudahi semua ketika dokter beserta perawat di belakangnya memasuki ruangan Jinki.
Aku hanya melihat dari sudut ruangan ketika mereka melakukan pemeriksaan. Hanya gumanan serta suara goresan pena yang terdengar. Begitu pemeriksaan selesai, dokter itu menyuruhku untuk mendatangi ruangannya.
Aku menganggukkan kepala dan mengatakan akan menyusulnya segera. Kudekati ranjang Jinki dan mengecup keningnya sesaat. “Aku keluar sebentar. Aku janji tak akan lama. Aku mencintaimu, Jinki.” Bisikku tepat di telingannya dan kembali mengecup keningnya sebelum keluar meninggalkan ruangan ini.
***
Dan sekarang aku terduduk di kursi panjang yang berada di salah satu lorong rumah sakit. Tak dapat kubayangkan bagaimana raut wajahku saat ini yang sudah berlinang air mata. Bahkan kedua tanganku tak mampu menutupi itu semua. Menangis. Hanya itu yang dapat kulakukan sekarang. Ah tidak, hal itu sudah kulakukan dari jauh-jauh hari sejak Jinki dinyatakan koma. Namun kali ini tangisanku melebihi yang sebelum-sebelumnya. Tak kuasa menahan semua kesedihan yang melandaku saat ini, tepatnya setelah beberapa langkah meninggalkan ruangan Dokter Kim.
Rasanya aku ingin berteriak melepas semua beban yang tengah kupanggul. Mengapa dari sekian banyak manusia yang menghuni bumi ini aku yang terpilih? Mengapa harus kekasihku yang mengalami hal ini? Mengapa dan mengapa. Begitu banyak pertanyaan yang kulayangkan pada-Nya.
Dengan gontai aku kembali memasuki ruangan 1412 yang kemudian membuat tangisanku semakin menjadi-jadi. Ambruk. Aku terduduk di lantai bersandar pada pintu, tak sanggup menahan berat tubuhku sendiri. Tubuhku lemas seketika. Mencapai batas yang akhirnya membawaku jatuh terpuruk begitu dalam ke dalam jurang keputusasaan.
Setelah merasa bahwa air mata itu terkuras habis, dengan mata yang sedikit bengkak aku menghampiri Jinki. Kembali menggenggam tangannya dengan mata terpejam. Terputar kembali kata demi kata yang diucapkan Dokter Kim.
“Apa pun yang terjadi yakinlah bahwa aku mencintaimu, Jinki. Rasa ini tak akan bisa terhapus bahkan tak pernah berkurang sedikit pun. Kau percaya padaku kan, Jinki?”
Aku tak peduli jika orang menganggapku gila karena berbicara sendiri. Aku tak peduli jika Jinki tak membalas ucapanku. Aku tak peduli lagi karena hatiku telah membeku. Biarlah rasa sakit ini kan kubawa hingga waktu yang tak terbatas. Ini lebih baik daripada harus melihat dirinya yang menderita. Cukup seorang yang menanggungnya. Diriku sendiri.
.
.
.
“Maaf jika aku harus mengatakannya tapi bagaimana pun juga, siap tak siap Anda harus bisa menerimanya. Kondisi Tuan Jinki sudah tidak memungkinkan lagi untuk sadar kembali bahkan aku sebagai dokter merasa heran melihatnya yang masih bisa bertahan dengan kondisi seperti itu hingga saat ini seperti ada hal yang menghambatnya. Percaya tak percaya, kemungkinan besar berhubungan dengan Anda, Nona.”
.
.
.
“Maafkan aku, Jinki, jika selama ini kau berusaha bertahan demi diriku. Tanpa perlu kau berucap pun aku mengetahui perasaanmu. Terima kasih, Jinki. Terima kasih karena sudah mengisi hari-hariku selama ini. Tak ada yang mampu menggambarkan apa yang bisa kuucapkan selain kata ‘terima kasih’. Aku akan berusaha sebisa mungkin menerimanya. Aku akan berusaha menjalani hari-hari tanpamu. Aku akan berusaha bangkit walaupun aku sendiri tak yakin. Kau hanya perlu tahu bahwa cinta ini akan kusimpan rapat-rapat di hatiku.”
.
.
.
“Aku merelakanmu, Jinki. Aku merelakanmu….”
.
.
.
Tanpa pernah gadis itu sadari bahwa setetes air mata mengalir dari kedua sudut mata yang sudah lama terpejam sebelum terdengar bunyi nyaring yang memilukan hati. Mengiringi kesunyian yang melingkupi ruangan tersebut.
Note:
Kyaaa~ tolong maafkan karena bikin cerita aneh nan gagal begini >< Salahkan koneksi internet yang terus melanda bikin kegalauan tingkat akut /lah/dirempukMVPs TT________TT
Don’t forget to RCL (Read, Comment, Like) after reading. Thanks ^^

alohaaaaa kakak
aku dateng nih (terus, dir?) hahahahaha
aduuuhhh makasih banget ya kak udah di tweet di twitter, aku pun langsung deh menuju kesini karena ngeliat posternya bagus #plaaakk
heuuuu ;___; ini sedih masa kak dan HOHOHOHOYYY KITA SEDANG MENGGILA GARA2 SHINEE YA KAYAKNYA HAHAHA AKU JUGA MASALAHNYA DAN EKSOH?? /hening/ enggak tau lah si eksoh itu harus diapain, gak balik2 :___; (oke kembali lagi ke cerita)
eumm…kenapa harus dibuat cerita sedih untuk si tahu korea ini, kak??
beneran deh, aku biasanya menemukan onew tuh di fic yang riang gembira gimana gitu (dan biasanya sih comedy) dan sekarang ada yang sedih T.T
tapi ini bagus sih, aku suka pendeskripsiannya dari awal sampe akhir..eumm terus terus aku mau nanya ini si tahu koma ya? ato udah meniun? Eunggg…tuh kan fic yang bersangkutan dengan penyakit itu pasti bikin ngenes deh T.T
tapi terakhirnya dia meniun ya? kasian ceweknya, KENAPA GAK DIBIKIN HIDUP AJA SI TAHU KOREA ITUUU??
oke, ini bagus, angst-nya dapet dan ngena banget di hati, aku gak tau deh kalo harus bersabar layaknya si cewek tuh rasanya pasti ga enak banget dan ceweknya setiaaaa heuuuu ;__;
oke, kakak…sering2 ya kalo buat fic langsung di mention aja ke aku (uuu…lu sape dir!!) ato gak di tweet aja hehehe
sekian aku menceracaunya disini, KEEP WRITING KAAAKKK!!! ME LOVE THIS!! BIKIN SHINEE LAGI YAAAAHHH!!!
Diraaa~ long time no see >,<
Sbenernya sih ad rencana bkin yg onyu ver tapi ya bgitulah~ klo suda ad nti kak ksh tw deh ke dira,otreh?
Btw MAKASI BGT DIRAAA, duh peluk cium kecup basah deh bt dukungannya *hug* lgian yg kak bkin pasti castny ga bakal jauh dr SHINee-EXO-2PM..buakakaka /gada yg tnya/
CU /lambai2 bareng luhan/
Okee,nyebelin bgt ud ketik pjg2 di hp pula dan kepotong -_____-”
Makasi bgt lho dir ud mw mampir, long time no see dgn dikau, really miss u and still wait 4 ur comeback *hug*
Dr dlu kak suka shinee jg kq cm terkecoh ama 12 namja keceh dr planet eksoh ditambah skg mreka comeback, KAK MAKIN CINTA SAMA SHINEE!!! Dibanding mreka yg ngilang pulang ke planet eksoh..huhuhu T_T
Masa sih dir? Dlu kak prnh nemuin yg sad2 gt jg koq tpi y dlu sih krn skg kbanyakan nemuny eksoh,aplg yg engFic jg dpt rekomendednya angst2 keterlaluan smua itu ><
Okeee, kepotong again..groarrrr
Awalny onyu itu koma dir trus akhirnya say bubyeee dan knp akhirnya hrs meniun? Salahkan sama yg nulisnya, salahkan sama imajinasinya yg mikirnya ke arah sana..salahkan mreka, salahkan /lah/kabur
Sbenernya kak sndiri jg pgn nangis pas baca ulang /trus knp tetep dbikin/ tpi gatau knapa tetep aja kepikiran ga dapet angstnya..huweee T_T makany terharu wktu dira blg angstny krasa..terhura(?) Sangat deh ><
OOT sedikit anek hehe ga ada yg nungguin lg gitu? koma ditinggal sendiri… agak aneh aja sih…
anggep aja uda gada anggota kluarga laen jdi yg mmg cuma si cewe itu doank yg nungguinnya..berangan2 dikitlah..haha
ga bisa(maksa) wkwkw setidaknya anggota kelurga dari awal udah nunggu diluar ato gimana jd seolah2 emang si cw tuh org terakhir yg dikasih dokter(makin keliatan kejam ga sih?)
mksdnya org terakhir yg dikasih dokter? ga ngerti dah -_____-
dikasih tahu ama dokternya soal kondisi pasien
Pingback: I’m Sorry, I Still Love You Sequel | SunsetBluesky