Second Hurt

Author : SunsetBluesky

Cast : Ellena [OC], Jonghyun [Shinee] as Ty

Genre : romance, sad

Length : Ficlet

warning! ceritanya super absurd dan typo. anggap percakapan bercetak miring menggunakan bahasa perancis. Happy reading ^^

Second Hurt © 2012 SunsetBluesky

Seorang gadis sedang terduduk di depan meja di sebuah ruangan yang tak terlalu besar. Ia sedang menatap layar laptop yang berada di depan matanya, menampilkan wajah seseorang yang sangat dirindukannya. Sahabat yang sudah lama tak berjumpa sejak dirinya memutuskan mengambil beasiswa ke Paris di pertengahan kuliahnya di Korea.

Gadis tersebut mendesah pelan dan berjalan menuju sebuah jendela yang berada tak jauh di sampingnya, memandang keluar dimana hujan sedang turun dengan derasnya bersamaan dengan cairan bening yang turun membasahi wajahnya.

Cuaca begitu dingin karena hujan yang masih terus membasahi kota seakan tak berhenti. Begitu pula dengan hatinya, dingin tanpa ada kehangatan cinta. Walaupun dirinya berlimpah kasih sayang orangtua dan dukungan dari sahabatnya itu tetap tak bisa menutupi rasa sakit yang dialaminya beberapa tahun silam.

Ellena -nama yang digunakan selama berada di Paris- masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya yang bernama Choi Minho, yang telah berpaling pada gadis lain. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Kau harus bisa melupakannya.” Gumannya pada diri sendiri dengan sebelah tangannya yang menyentuh dinginnya kaca jendela di hadapannya itu.

“Mengapa bayangan dirimu tak pernah bisa pergi dariku? Tak cukupkah kau menyakitiku? Aku bahkan semakin tersiksa dengan perasaanku sendiri.” Tubuh gadis itu rubuh, dengan bersandar pada dinding ia memeluk kakinya sambil menundukkan kepala yang diletakkan pada lututnya. Terisak seorang diri.

~*~*~*~

Cukup lama Ellena tertidur di lantai dengan posisi yang sama. Badannya terasa sakit dan pegal, dinginnya lantai merasuki dirinya mengingat ia belum mengisi perutnya sejak siang tadi.

Ditelusuri jalan tersebut dengan berjalan kaki sampai ia menemukan sebuah restoran untuk sekedar mengisi perutnya yang sudah bernyanyi sejak tadi. Dilangkahnya kaki tersebut memasuki tempat tersebut dan mengambil meja kosong yang bersebelahan dengan kaca jendela. Seorang pelayan menghampiri gadis tersebut, menanyakan pesanan dalam bahasa perancis dan dijawab dengan bahasa yang sama.

Sambil menunggu pesanan datang, Ellena menopangkan dagunya menggunakan tangan kanan yang bertumpu pada meja. Dia memandang keindahan menara Eiffel penuh dengan gemerlap lampu yang berada tak jauh dari sana.

Apa Menara Eiffel mengingatkan Anda pada Namsan Tower?”

Ellena mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang lelaki yang masih muda yang duduk di meja seberang. Ia menatap heran, apa benar pertanyaan itu diajukan untuknya.

Anda mengetahui tentang Namsan, apa Anda orang korea juga?

Lelaki tersebut membuka kacamata hitam yang terpasang di wajahnya, menggerakkannya sedikit dengan sebelah tangan sebagai pertanda -ya-aku-orang-korea- dan meletakkannya di atas meja. “Apa kau keberatan jika aku menempati kursi depanmu yang kosong itu?” tanya lelaki itu dalam bahasa korea.

Ellena terdiam sebentar menanggapi pertanyaan tersebut dan tersadar beberapa detik kemudian. “Silakan, lagipula aku sendirian.”

Berbarengan dengan selesainya ucapan Ellena, pesanan lelaki itu datang dan dia menyuruh pelayan itu mengantarkan pesanannya ke meja seberang sekaligus dirinya yang beranjak berdiri untuk menempati kursi kosong. Tak lama pesanan gadis itu pun datang dan mereka berdua menikmati hidangan masing-masing secara bersamaan.

Ditengah mereka menyantap makanan tersebut, lelaki itu kembali bertanya. “Apa kau sedang berlibur disini?”

“Ani, aku kuliah disini karena beasiswa.” Ellena menjawab seadanya namun masih sopan karena berbicara dengan seseorang yang baru saja dikenal.

Lelaki itu membulatkan mulutnya ‘O’ dan mengulurkan tangannya yang disambut tangan gadis tersebut.

“Ty.”

“Ellena.”

Mereka berdua mengobrol walaupun lebih banyak lelaki itu yang berbicara hingga hari semakin malam. “Kurasa aku harus segera pulang.”

Ellena memanggil salah satu pelayan dan saat akan mengeluarkan uang, lelaki itu menahannya. “Biarkan aku yang bayar, anggap saja hari ini perayaan perkenalan kita.”

“Gamsahamnida.” Ellena membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih.

Your welcome dan jika tak keberatan pula, biarkan aku mengantarmu pulang. Tak baik seorang gadis pulang sendiri di tengah malam seperti ini.”

~*~*~*~

“Hey, siapa lelaki itu?” Seorang gadis berambut panjang hitam kecoklatan menepuk bahunya yang membuat Ellena sedikit terkaget karena hari yang memasuki hampir tengah malam.

“Kau membuatku hampir berteriak, Claresta.” Gadis yang dipanggil Claresta itu merupakan tetangganya di apartemen ini. Lebih tua setahun dari Ellena, ia juga orang Korea blasteran China. Seorang DJ di sebuah klub malam namun ia seorang gadis baik-baik, hanya menyalurkan hobi musiknya yang tak kesampaian.

“Mianhae tapi baru sekali ini aku melihatmu diantar seorang lelaki, ani..baru sekali ini aku melihatmu berjalan dengan seorang lelaki.” Claresta mengusap dagunya sambil memutar matanya seakan sedang berpikir. “Apa dia kekasihmu?”

“Aniyo, dia..temanku.” Ellena sempat menjeda ucapannya karena dia baru berkenalan dengan lelaki tersebut, yang belum tentu bisa dibilang teman. Apalagi hanya saling mengetahui nama dan wajah serta pekerjaan atau bisa dibilang hobinya karena kesukaannya pada dunia fotografi.

“Baiklah, aku tak akan mengganggumu lagi karena aku harus berangkat bekerja. Annyeong.” Claresta melambaikan tangannya. Ellena melihat Claresta menghampiri seorang lelaki dari salah satu jendela, yang katanya seorang bartender di tempat dirinya bekerja.

Ellena hanya tersenyum kecut melihatnya karena mengingatkan dirinya akan mantannya lagi dimana mereka dulu selalu berangkat bersama ke sekolah. “Bagaimana kamu bisa melupakannya kalau kamu terus-menerus mengingatnya?” Gumannya sendiri.

“Padahal aku sengaja kemari agar bisa melupakannya tapi..mengapa semakin hari aku semakin tak bisa melupakannya? Padahal dia sudah menyakiti hatiku.” Ellena kembali menangis, entah sudah berapa banyak hari ini ia mengeluarkan airmatanya itu.

~*~*~*~

Beberapa bulan sudah ia berkenalan dengan lelaki bernama Ty Kim itu dan sesekali mereka bertemu setelah bertukar nomor telepon. Namun belakangan ini mereka jarang bertemu mengingat selama seminggu ini Ellena disibukkan dengan tugas kuliahnya bahkan sekedar untuk mengisi perut saja kadang tak sempat kecuali bila perutnya itu sudah tak bisa diajak kompromi, baru dia akan makan. Itu pun hanya memasak mie instan yang tersedia di apartemennya.

Terutama hari ini dimana besok merupakan batas pengumpulan tugasnya. Ellena bahkan tidak tidur semalaman dan rasa kantuk benar-benar menyerangnya, ia bahkan banyak meminum kopi agar tetap terjaga sampai tugas itu dikumpulkan.

Matahari mulai terbangun dari tidurnya dan perjuangan Ellena pun berakhir. Tugas itu baru saja terselesaikan pukul 5 pagi. Ellena pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta membuatnya kembali segar, bersiap berangkat ke kampusnya untuk menyerahkan tugasnya itu.

Selama perjalanan ke kampusnya, ia sempat merasa pusing. Mungkin efek dari kurang tidur dan pola makannya yang tidak teratur akibat pengerjaan tugas yang sangat padat ini. Ia meronggoh tasnya dan meminum suplemen yang selalu ia simpan.

Tak membutuhkan waktu yang lama, Ellena pun sampai di kampusnya. Diserahkannya tugas tersebut dan melanjutkan kuliahnya hingga pukul 12 siang. Ketika dirinya menuju sebuah halte bus, tiba-tiba rasa pusing kembali melanda kepalanya bahkan keadaan sekitar sudar terasa berputar-putar.

Ellena memaksakan dirinya terus berjalan bahkan pandangan matanya sudah mulai mengabur dan badannya langsung limbung ke tanah. Tampak dari kejauhan seorang lelaki langsung berlari -yang ternyata adalah Ty- dan langsung menghampiri Ellena.

“Lena-ya, gwaenchanayo?” ucap lelaki itu ketika berhasil menahan tubuh Ellena namun tak lama kemudian ia memekik karena mata gadis itu langsung terpejam. “Ya, Lena-ya ireona!” teriak lelaki itu sambil menepuk pelan pipi Ellena. Dia segera mengangkat dan membawa tubuh gadis itu ke sebuah taksi yang berhasil dicegatnya.

Antar ke rumah sakit terdekat. Cepat!

Tak sampai 10 menit, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Gadis tersebut langsung dibawa ke dalam. Ellena pun segera ditangani salah seorang dokter jaga disana. “Bagaimana keadaannya?”

“Gadis itu hanya kelelahan dan kurang tidur. Selebihnya tak ada penyakit yang serius.”

Ty menarik kursi dan duduk di samping ranjang pasien. Ia mengelus pelan kepala Ellena yang masih belum tersadar. Walaupun keduanya belum lama kenal tapi dalam hatinya, ia merasa begitu khawatir melihat keadaan gadis tersebut. Ia sebenarnya merasa nyaman dan hatinya terasa hangat saat bersama Ellena namun ia sendiri tak mengetahui perasaannya sendiri.

drttt drttt drttt

Terdengar dering telepon yang ternyata berasal dari ponsel miliknya, ia menekan tombol hijau sambil berjalan keluar dan terdengar suara seorang gadis dari seberang telepon. “Yeoboseyo? Ah, Hyunie-ah..aku sudah bertemu dengannya namun sekarang dia berada di rumah sakit karena pingsan. Ne? kau berada di Paris?…” Lelaki itu berbicara di telepon tanpa menyadari bahwa ada seseorang mendengar pembicaraannya.

Begitu lelaki tersebut selesai berbicara, ia kembali masuk ke dalam kamar dan terkaget mendapati gadis tersebut sudah sadar bahkan berdiri di dekat pintu. “Kapan kau sadar?” Pertanyaan tersebut tidak ditanggapinya, sebaliknya lelaki tersebut malah ditatap tajam.

“Apa maksudmu berkenalan denganku?”

“…” Ty tidak menjawab, terlihat di wajahnya menatap heran pada gadis yang berdiri di depannya.

“Kau tak usah berbohong lagi. Apa kau disuruh oleh seseorang mendekatiku?”

“…” Lagi-lagi Ty terdiam tak menjawab.

“Hyun Young yang menyuruhmu kan?!” Kali ini emosinya sudah memuncak, bahkan dia berteriak tanpa memperdulikan bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. “Jawab pertanyaanku, Ty!”

Lelaki tersebut menghela nafas. “Hhh..apa yang kau katakan itu benar tapi aku-” ucapannya langsung dipotong oleh Ellena.

“Kau tak perlu menjelaskan apa-apa padaku. Tak kusangka ternyata kau seorang PEMBOHONG, Ty!” Lelaki itu hendak memegang Ellena namun tangannya ditepis, bahkan Ellena langsung berlari keluar setelah melepas selang infus yang masih bersarang di tangannya.

Ty berusaha mengejar Ellena namun sayang gadis itu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam taksi dan langsung menyuruh supir tersebut berangkat tanpa memperdulikan Ty yang menggedor-gedor kaca jendela taksi sambil setengah berlari. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi setelah sosok lelaki itu sudah tak terlihat.

Kemana tujuan Anda, Nona?

Sungai Seine.” jawabnya singkat. Selama taxi tersebut melaju, Ellena menyandarkan kepalanya menengadah ke atas. Hatinya terasa sangat kecewa baik itu Ty ataupun orang dibalik itu yang ternyata adalah temannya di Korea.

Setelah sampai di tempat tujuan, Ellena segera keluar dari taksi tersebut, tak lupa sebelumnya dia membayar biayanya. Didekatinya sungai tersebut, tempat dimana ia bisa mengeluarkan segala perasaan yang berkecamuk dalam dirinya seperti sungai Han di Negara asalnya. Hatinya begitu sakit mendapati bahwa lelaki yang dekat dengannya itu ternyata tidaklah tulus.

Disaat kehadiran Ty yang selalu bisa menghibur dirinya dan bisa melupakan kesedihannya walau untuk sesaat, ternyata itu hanya kebohongan belaka. Sakit. Sesak. Entah apalagi yang dirasakan olehnya, merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh.

—THE END—

Advertisements

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s