One Last Cry Sequel

one last cry

One Last Cry Sequel

cast: Kim Jong Hyun and You

AU, Sad Romance, Angst | Ficlet | PG

 

A/N: holaa, setelah sekian lama akhirnya cerita One Last Cry berlanjut. Maaf jika aneh bahkan terkesan ending yang memaksa. Dont forget to review after you read~

.

.

Entah darimana asal mula cap seorang playboy menempel pada diriku. Padahal aku hanya berusaha tersenyum ramah pada setiap orang. Itulah yang ibu dan kakak perempuanku ajarkan. Aku sangat menghormati kaum wanita seperti halnya aku menghormati keluargaku. Tapi aku tak peduli karena mereka toh intinya tetap berusaha menarik perhatianku dengan berbagai cara. Mereka hanya memperhatikan apa yang terlihat di luar, bukan diriku yang sesungguhnya.

Namun diantara semuanya, hanya satu orang saja yang membuatku tak bisa melepaskan diri untuk tidak memperhatikan gerak-geriknya. Bagaimana cara dia tersenyum dan tertawa. Bagaimana aku yang dengan sengaja keluar kelas untuk memperhatikan dirinya yang serius memperhatikan penjelasan guru. Bagaimana ketika kerut-kerut bermunculan saat dirinya tak mengerti atau berpikir mencari penyelesaian soal yang tengah dikerjakannya. Dan banyak hal lainnya yang selalu kuperhatikan layaknya seorang stalker.

Mungkin kalian tak percaya tapi aku sungguh kesulitan mengajaknya bicara. Bukan karena sikapnya yang dingin dan terlihat membenciku. Bukan itu. Semuanya berasal dariku sendiri. Betapa gugupnya aku jika hendak mendekatinya. Pikiranku kosong seketika dan entah kata-kata apa yang harus kususun. Hingga suatu hari aku mendapatkan kesempatan yang tentu saja tidak kusia-siakan.

Aku dan gadis itu dipilih untuk mengisi acara festival yang diadakan sekolah, dimana dia ditunjuk sebagai singer dan aku sebagai pianist. Bahkan aku mendapatkan double combo seminggu menjelang hari tersebut untuk bernyayi duet. Di waktu yang cukup singkat itu membuatku semakin sering menghabiskan waktu bersama untuk berlatih. Tak jarang aku mengantarkannya pulang karena hari yang sudah malam. Membuat hubungan kami semakin dekat dan akhirnya dengan memberanikan diri aku mengungkapkan perasaanku.

Dengan penuh rasa berdebar dan khawatir akan penolakan darinya, yang terjadi malah sebaliknya. Dia memiliki perasaan yang sama denganku dan sejak itu pula kami resmi menjadi sepasang kekasih.

*

Hari-hari kami lalui bersama. Tak pernah satu hari pun terlewat tanpa dirinya di sampingku. Pertemuan demi pertemuan membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Memperdalam perasaan tuk meyakinkan diri bahwa dialah orang yang tepat. Takdirku.

Sekian lama waktu yang kubutuhkan untuk memantabkan diri bahwa aku sudah siap untuk meminangnya. Dengan segala kemapanan yang telah kukumpulkan sejak kujalani hubungan ini terbayar sudah saat kata ‘I do’ keluar dari bibirnya. Sinar kebahagiaan ini langsung terpancar di wajahnya, termasuk diriku yang terlampau senang tak terhingga.

Segala persiapan pun dimulai. Pemilihan cincin, gaun pengantin dan tuxedo, kartu undangan, gedung, dan segala hal yang berhubungan. Terkadang muncul perdebatan-perdebatan kecil ketika kami tak sepaham namun ditutup dengan kekehan ringan ketika menyadari betapa bodohnya kami berdua dalam mengambil keputusan cepat.

Yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana tanpa tahu ada rencana lain yang bergerak secara bersamaan.

*

BRAKKK

Tak peduli bagaimana pandangan mata yang terarah padaku tentang kesopanan dalam bertamu. Tak kuasa lagi aku memendam emosi yang siap meledak kapan saja. Dengan sorot tajam aku menatapnya penuh rasa benci yang semakin menjadi-jadi ketika melihat responnya yang begitu santai dengan senyuman menawan yang sarat akan kemenangan.

“APA YANG KAU INGINKAN?”

Sekeras apapun aku membentaknya, ia tetap terlihat tenang. Kaki jenjangnya secara perlahan melangkah mendekatiku. Anggun. Mungkin orang akan terpesona ketika melihat bagaimana ia berjalan namun tidak denganku. Aku bahkan terlampau muak.

“Angin apa yang membuatmu datang kemari? Tenanglah, kita bisa membicarakannya—”

“TENANG KATAMU? BAGAIMANA BISA AKU BERSIKAP SEPERTI ITU MENGHADAPI ORANG SEPERTIMU?”

Dan aku pun langsung meninggalkan ruangannya setelah puas berteriak memaki orang yang akan membuat hidupku hancur berantakan.

*

Kukirimkan pesan singkat padanya, mengajaknya bertemu di taman yang sama saat aku melamarnya. Napasku terasa berat. Mungkin tak lama lagi hidupku akan berakhir. Pikiranku kalut sampai-sampai tak menyadari kehadiran orang itu yang sudah berdiri terlampau dekat.

“Kau sudah siap?”

Aku tak memberikan respon apapun. Sungguh aku ingin sekali menyingkirkan orang ini. Tak peduli dirinya yang berkelamin wanita. Ketika jemari tangannya mulai menempati ruang-ruang kosong jariku. Menaut terlalu kuat hingga dapat kurasakan kuku-kuku panjangnya yang diperindah warna-warni kuteks itu menusuk kulit. Aku hanya dapat meringis tertahan saat menyadari arti yang tersirat di dalamnya.

Kuangkat kepalaku menatap wajahnya dengan sebelah tangan yang terbebas membelai pipinya, “kau adalah wanita iblis.” Bisikku tepat sebelum menempelkan bibirku tepat dibibirnya.

Dia menyunggingkan senyuman terima-kasih-atas-pujianmu dan memerintahku menghadap ke belakang menggunakan matanya. Kuambil napas panjang dan berbalik siap melakukan permainan selanjutnya.

“Jjong, s-s-siapa wanita itu?” Aku berusaha menutup mata, membutakan diri saat air mata berharga itu mengalir di wajahnya. Aku terdiam tak langsung menjawab pertanyaannya, “cukup sampai di sini,” kuberikan jeda sesaat, “aku ingin hubungan kita berakhir saat ini juga.” Dan aku langsung berbalik. Menulikan pendengaranku saat tangisannya terdengar memilukan hatiku. Beranjak meninggalkannya dengan menarik tangan wanita yang sebelumnya bersamaku memasuki mobil.

“Ini yang kaumau? Puas kau melihatnya? Puas kau menyakitiku, menghancurkanku…, Noona?”

*

Dan setelah sekian lama, akhirnya aku memberanikan diri mendatangi gedung ini. Kutatap sekian menit sebelum memutuskan memasuki lobby, menanyakan sebuah ruangan seperti yang kuminta saat menelepon sebelumnya.

“Ikuti saya, Tuan Kim.”

Langkah demi langkah kaki ini semakin mendekat. Tanganku semakin terkepal setelah tepat berada di depan sebuah pintu. Menahan gejolak rasa rindu yang tak bisa tersampaikan. Menahan kesedihan yang mendera saat melihat keadaannya yang kembali menyakitiku. Dan dengan langkah tergesa aku pergi menjauh, meninggalkan petugas yang tengah berusaha memanggil namaku karena tindakanku yang mendadak.

Setelah menemukan tempat yang tepat, kulemparkan serangan kepada dinding batu tak bersalah. Meninggalkan jejak darah yang mengucur dari tanganku. Rasa sakit ini tak sepadan dengan yang dirasakannya. Hatinya terkoyak mengingat pemandangan singkat sebelumnya. Dengan air mata penyesalan yang tak berarti, hanya satu yang bisa kugumankan saat ini,

Mianhae. Jeongmal mianhae…”

Advertisements

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s