Mirror

mirror

Mirror

by

Cheverly Jin

 

Main Cast: 2AM Jin Woon, Kara Nicole as Yong Joo || Minor Cast: SHINee Key, EXO Suho as Jun, Miss A. Min, Beast Dong Woon || Genre: AU, Fantasy, Sad Romance, Slight!Angst, Surrealism || Duration: 3000W++ || Rating: PG-15

Inspired by: Inception Movie, Daniel Bedingfield “Every Little Thing”, Justin Timberlake “Mirror”, Clamp “Magic Knight Rayearth Manga

.

.

Hari-hari yang kita jalani bagaikan sebuah kaca bening.

Transparan dan rapuh,

yang dapat hancur dalam sekejap…

.

o—Mirror—o

.

Benda beroda empat berwarna metalik itu melintas memecah jalanan di kawasan kota yang tak pernah mati dari segala aktivitas. Di mana hampir segala kegiatan berpusat di sana dengan gedung-gedung tinggi yang saling berlomba menutupi berkas sinar mentari yang terpancar luas. Dan tak ada yang lebih mengesalkan ketika mendapati antrean panjang di tengah cuaca panas yang mendera.

Lelaki itu hanya bisa mengumpat di tempat. Ia tak memiliki banyak waktu sebenarnya namun apa daya, keadaan yang memaksa demikian. Sebuah pukulan mendarat pada benda melingkar di depan mata yang tak memiliki kesalahan sama sekali. Berakhir menjadi korban kemarahan sang empunya.

Ia kembali menempatkan punggung di sandaran kursi. Menutup mata dengan lengan yang terlipat. Desah demi desah keluar dari celah bibirnya. Membuang segala emosi yang mulai terkumpul di satu titik. Gerah pun mulai menyerang secara beruntun. Kelopak yang semula tertutup itu kembali terbuka. Ia pun melepaskan tiga bulatan kancing setelah melonggarkan ikatan dasi dengan cepat, seakan-akan melepas segala rasa yang tengah mencekik lehernya.

Tangan kanannya kembali memegang kemudi sedangkan sebelahnya lagi digunakan untuk menopang kepala yang kembali pening. Matanya memandang malas kendaraan-kendaraan yang masih panjang di depan sebelum kembali tertutup bersamaan dengan desahan yang lagi-lagi keluar ketika dering itu terdengar berulang kali dengan caller-id yang sama.

Merasa terganggu, akhirnya ia mengambil benda pipih tersebut. Bukan menerima panggilan tapi ia melepas baterai dan melemparkannya ke jok belakang dalam keadaan tak beraturan. Ia benar-benar membutuhkan waktu untuk menyendiri. Memulihkan keadaan pikiran yang kalut, ditambah dengan emosinya yang labil.

Maniknya menatap kaca spion. Oh, sungguh kacau sekali keadaannya saat ini. Bulatan hitam yang mengelilingi mata terlihat seperti seekor panda. Tatapannya sayu dan merah. Merebahkan diri di antara tumpukan lateks adalah tujuan utamanya.

*

Besi-besi kecil  yang saling melekat dengan ujung runcing seperti bilah pedang yang berjajar rapi membatasi halaman rumah dengan jalanan aspal di depan. Tak lupa gapura yang berdiri kokoh dengan susunan material yang sama membentuk sebuah balok panjang. Menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran yang rumit bergaya serupa dengan warna senada yang pekat. Halaman dengan hamparan hijau kecoklatan begitu mendominasi. Tak lupa pohon dan rerumputan tinggi yang berada di beberapa sudut di mana sebuah rumah dua lantai bergaya klasik dengan arsitektur victoria yang begitu kental terletak di tengahnya.

Semakin ditilik akan terlihat jendela-jendela tinggi yang langsung memaparkan dekorasi di dalamnya walaupun tertutup tirai serta gorden yang tergantung tepat di samping. Terlihat jejeran patung atau hiasan yang menyerupai artefak yang senada; lampu dengan material kristal yang tergantung bebas di langit-langit ruang ataupun yang menempel di dinding; maha karya sang pelukis yang semakin mempertajam nuansa kuno namun tetap terkesan elegan; semuanya bersatu memperindah dekorasi ruangan.

Mengalihkan pandangan ke kanan maka  akan menemukan sebuah ruangan di mana terdapat dua sofa yellowgreen dengan bantal kotak berbahan bulu yang saling berhadapan. Sebuah perapian yang terletak tepat di bawah sebuah cermin dengan aksen klasik penuh ukiran, serta pahatan menyerupai dewa-dewi yang terletak di beberapa sudut.

Tepat ketika mengarah sebaliknya, terdapat sebuah tangga granit dengan pijakan-pijakan pualam. Senja keemasan yang terbentang di sepanjang horizon dengan pantulan cahaya kebiruan yang membayang di permukaan yang bergerak perlahan dan teratur di kejauhan sana. Seakan tengah melambaikan tangan kepada sang penatap. Semilir angin yang bermain-main dengan anak rambutnya dan juga iringan alunan musik yang terbentuk dari alam turut menemani.

Sang cakrawala mulai bertransformasi menuju intensitas cahaya yang semakin minim. Berganti dengan pendar keperakan sang rembulan yang menembus masuk melalui celah-celah jendela. Menyorot langsung sebuah grand piano berwarna hitam yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Disentuhnya seluruh permukaan halus tersebut sebelum membuka penutup dan duduk di kursi yang ada. Membiarkan sang jemari bermain di antara tuts hitam-putih yang membentuk sebuah melodi indah. Tak lupa siliran angin yang turut melantun bersamaan. Wajahnya tampak serius. Masuk lebih dalam seakan dialah sang tokoh utama. Lambat laun irama itu terdengar semakin pelan dan akhirnya menghilang tertelan kesunyian malam.

Mata itu kembali terpejam sebelum memutuskan mengakhirinya dan menghampiri ruangan pribadi. Mendekati sebuah bingkai memanjang yang selalu memantulkan dirinya secara sempurna. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Matanya berbinar-binar. Pertanda bahwa ia sedang merasa bahagia.

*

“Jinwoon-aa…Jinwoon-aa…,” suara lembut itu menggelitik pendengarannya. Cuaca dingin yang mendera membuatnya merasa malas untuk membuka mata. Ia ingin melanjutkan menikmati rasa hangat yang diberikan helaian kain yang melilit tubuhnya. Mengabaikan panggilan yang berulang kali terdengar dengan menutup telinganya menggunakan bantal. Seseorang yang membangunkannya pun tak putus asa. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh seorang lelaki yang dipanggil Jinwoon itu.

“Yonggie-aa, aku masih lelah. Berikan aku waktu sebentar saja untuk beristirahat kembali, ne?” Jinwoo memelas. Berharap keinginannya itu akan dikabulkan oleh sang gadis.

Aish, kau ini. Tak bisakah kau melihat waktu sudah menunjukkan pukul berapa sekarang? Hampir menjelang siang, Jinwoon-aa. Kau bisa melewatkan jam kerja.”

Mata Jinwoon langsung terbuka lebar. Ia langsung menegakkan tubuh di atas kasur yang terus-menerus memanggil. Berusaha membuang rasa kantuk dengan menepuk-nepuk pipinya pelan.

Oh God, kenapa kau tidak membangunkanku sejak tadi?” Lelaki itu terbirit bangun menuju kamar mandi. Yongjoo hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya itu.

“Kau bahkan sudah kubangunkan sejak sejam yang lalu.” Teriak sang gadis sambil membereskan ranjang Jinwoon yang berantakan. “Kutunggu kau di meja makan, Sayang.” Ucapnya kembali sebelum menghilang dari balik pintu.

.

Derap langkah Jinwoon membuyarkan keheningan Yongjoo yang larut dalam kegiatannya di dapur. Tangan kekar itu melingkar sempurna di pinggang Yongjoo dan dagunya diletakkan di pundak sang gadis sehingga menimbulkan sensasi tersendiri. Kehangatan seketika melingkupi saat menangkap aroma sandalwood bercampur citrus yang menguar dari tubuh Jinwoon. Kombinasi yang sangat cocok sehingga menciptakan kesegaran alami.

Beberapa detik mereka lalui dengan posisi yang sama sampai Yongjoo merenggangkan pautan tangan Jinwoon. Ia membalik tubuhnya kemudian berjinjit untuk menyentuh bibir kekasihnya, “saatnya sarapan, Sayang. Kau harus segera berangkat kerja, OK? Seorang atasan harus memberikan contoh yang baik untuk bawahannya.”

Jinwoon membantu Yongjoo membawakan santapan pagi menuju meja makan. Keduanya duduk berseberangan menikmati hidangan. Tak jarang saling memberikan senyuman di sela-sela suapan sendok yang masuk ke dalam mulut masing-masing. Menghabiskan kebersamaan sebelum akhirnya mereka harus berpisah karena Jinwoon yang akan berangkat ke kantor.

“Selamat bekerja, Sayang.”

“Kau juga hati-hati di rumah, Yong.” Jinwoon meninggalkan kecupan singkat sebelum masuk ke mobil. Yongjoo terus memperhatikan keberadaan Jinwoon yang hilang meninggalkan pekarangan dengan senyum simpul. Ia menutup pintu dan bersandar sebentar sambil memejamkan mata. Menggigit bibir bawahnya dan menatap sendu benda bundar penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Dihembuskan napasnya dengan berat dan kembali melangkahkan kaki menuju ruangan lain di rumah tersebut.

Sudah saatnya aku pulang.

*

Jinwoon memutuskan kontak mata dengan gadisnya di belakang melalui kaca spion mobil. Ia tersenyum sekilas sebelum kembali menginjak pedal gas. Melajukan kendaraannya memecah jalanan sepi saat matahari sudah berdiri dengan kokoh di singgasananya. Kebahagiaan tak pernah absen di hati Jinwoon. Tak memedulikan suasana yang terlampau sepi jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

Dinyalakannya music player mobil dengan volume yang hampir mencapai batas full. Ia ingin menutupi berbagai suara pengganggu yang secara samar tertangkap gendangnya.

Nada-nada cinta tersebar memenuhi kotak metalik tersebut, atau mungkin terdengar hingga keluar karena jendelanya yang terbuka melebihi separuh. Tak peduli jika hal itu akan mengganggu pengguna jalan lainnya.

Gumam pelan perlahan keluar dari celah bibirnya hingga ia memutuskan untuk turut meramaikan suasana. Suara bening itu mengikuti alunan musik. Perpaduan sempurna jika ditambah suasana hati yang cerah. Hingga secara tiba-tiba ia menghentikan putaran keempat roda itu. Membuat tubuhnya sendiri hampir bertumbuk keras dengan alat kemudi.

Dahi Jinwoon berkerut seakan tengah berpikir. Merasa heran mengapa otaknya secara otomatis memerintahkan sang kaki untuk menginjak pedal rem padahal tak ada benda ataupun hal lain yang mengganggu perjalanan.

Jinwoon terdiam sebentar untuk mengatur pekerjaan paru-parunya ke arah normal. Setelah merasa cukup, ia pun kembali melanjutkan perjalanan. Menggelengkan kepala pelan merutuki kebodohan yang dilakukan sebelumnya tanpa alasan jelas. Jinwoon fokus menatap ke depan tanpa menyadari ada mata yang terus memperhatikannya sejak ia keluar dari halaman rumah.

.

“Kau lihat kejadian tadi? Kira-kira apa pendapatmu?” Orang yang diajak bicara tak langsung menjawab pertanyaan. Terus menatap titik di mana mobil itu menghilang.

“Menurutmu?”

“Aku yang bertanya lebih awal. Seharusnya kau menjawab pertanyaanku, bukan bertanya balik padaku.” Lelaki pertama berdecak kesal. Sungguh tak mengerti mengapa ia bisa bertahan lama berteman dengannya.

“Aku tak tahu. Kurasa kau sendiri juga tak bisa memprediksinya bukan?”

Keheningan kembali mendominasi. Helaian rambut mereka melambai-lambai halus, mengikuti ke mana arah angin mempermainkannya. Terhanyut dalam alam pikiran masing-masing.

“Kurasa kita harus pulang sekarang. Aku tak ingin kegiatan kita tercium mereka.

Salah satu dari mereka menganggukkan kepala, menyetujui pendapat yang diucapkan temannya. Dan mereka pun akhirnya tak nampak lagi di tempat tersebut.

*

Jinwoon pun sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Senyum itu tersungging lagi di bibirnya membuat matanya membentuk bulan sabit. Membuat dirinya terlihat semakin tampan.

Tak lama ia kembali melaju memasuki basement. Menyimpan teman setianya di tempat yang telah disediakan. Oh, tentu saja karena ia adalah salah satu pemimpin di perusahaan ini. Memiliki jabatan yang tak kalah penting jika dibandingkan dengan petinggi-petinggi lain.

Dilepaskannya kacamata hitam yang melekat di wajah. Melihat kembali tatanan rambut serta pakaian kerjanya. Memastikan semuanya telah rapi, ia pun mengambil tas kerja yang diletakkan di samping kursi pengemudi dan keluar menuju lift. Ia sempat mengerenyit heran melihat keadaan kantor yang cukup sepi. Melirik sepintas jam yang melingkar di tangan kanannya.

Sudah jam kerja, pikirnya.

Jinwoon hanya mengangkat bahu. Berusaha tak memedulikan lagi  keadaan yang tak lazim. Ia pun berjalan menuju lift. Tak membutuhkan waktu lama untuk membawa masuk tubuhnya ke dalam kotak besi itu. Ditekannya tombol lantai di mana letak kantornya berada. Sambil menunggu, ia bersenandung pelan. Mengingat kembali kegiatannya di pagi hari yang dihabiskan bersama sang kekasih.

Ting.

Terdengar dentingan penanda namun itu hanya menarik secuil perhatian Jinwoon karena itu bukan lantai tujuannya. Terlihat dua orang lelaki yang berpakaian rapi memasuki lift yang ditumpanginya.

“Aku belum pernah melihat mereka berdua. Mungkin orang baru.” Ucapnya dalam hati.

Jinwoon tetap menunjukkan kesopanan dengan membungkukkan badan walau tak mengenal mereka. Kedua orang itu pun membalas hal serupa. Salah satunya menunjukkan senyum yang bagaikan seorang malaikat, sedangkan satunya lagi hanya bertampang datar. Tak menunjukkan ekspresi apapun. Tak terbaca.

Ketiganya jatuh dalam dunia tanpa suara. Hening. Mereka saling diam. Kedua orang yang baru masuk itu saling bertatapan seakan tengah berkomunikasi. Salah satunya menggelengkan kepala pelan agar tak terlihat oleh Jinwoon dan seseorang yang lain malah menyeringai.

Lelaki itu menepuk pundak Jinwoon, membuatnya membalikkan badan. Namun sebelum bertanya, kotak besi itu bergetar cukup hebat. Jinwoon langsung berjongkok mengangat tasnya di atas kepala. Hal yang pertama kali ada di pikirannya saat terjadi gempa. Ia sempat heran kedua orang yang bersamanya terjebak di lift tetap terlihat berdiri dengan tenang. Hingga guncangan kedua datang dan membuat ruangan kotak kecil itu gelap seketika.

*

Walaupun mata itu masih terpejam, Jinwoon terlihat gelisah dalam waktu istirahatnya. Membuat Yongjoo yang berada di samping menampakkan wajah khawatir. Digenggamnya erat tangan Jinwoon berusaha menyalurkan ketenangan. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Kepala Jinwoon bergerak ke arah kanan dan kiri dalam tempo yang semakin cepat dan seketika ia berteriak.

“Jinwoon-aa, apa yang terjadi?” Terdengar suara yang sedikit bergetar yang membuat Jinwoon menoleh ke sumber suara. Sorot ketakutan itu berganti dengan kekhawatiran walau tak sepenuhnya hilang. Yongjoo berusaha tak memaksa. Ia pun semakin mengeratkan pegangan tangannya ketika merasa tangan Jinwoon sedikit bergetar.

“A-aku…,”

“Tenanglah, Sayang. Ceritakan padaku perlahan.” Mendengar kalimat yang keluar dari bibir kekasihnya itu, Jinwoon langsung melepaskan genggaman tangan Yongjoo dan langsung berhambur memeluknya. Rasanya Jinwoon ingin menangis namun tak ada air mata yang keluar.

“Aku bermimpi bahwa kita mengalami kecelakaan dan kau..kau—”

Sekali lagi Yongjoo berusaha menenangkan kekasihnya. Mengusap-usap punggung yang terlihat begitu rapuh sekarang.

“—meninggal saat itu juga.”

DEG

Jantung Yongjoo seakan terkena sengatan listrik. Tangan yang semula bergerak langsung terhenti detik itu juga. Matanya terbuka lebar namun sesaat kemudian kembali normal. Yongjoo melepas pelukan. Ditangkupkan tangan putih halus miliknya di pipi Jinwoon. Membawa wajah itu terlihat tepat di depan mata. Ia menyunggingkan senyum manis, “itu hanya mimpi, Sayang. Kau tak perlu khawatir lagipula aku masih di sini, bukan? Di hadapanmu…”

Lama-kelamaan Jinwoon terlihat semakin tenang. Deru napasnya sudah tak memburu seperti semula. “Ya, kau benar, Yonggie. Itu hanya mimpi. Mimpi yang teramat buruk.”

.

Ranjang itu kembali menjadi tempat Jinwoon berbaring. Ia kembali tidur—tepatnya dipaksa oleh Yongjoo—setelah mengobrol singkat. Terdengar desahan kecil keluar dari bibir Yongjoo. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan yang ada di pikirannya pertama kali adalah keluar dari ruangan itu.

Kristal bening itu bercucuran satu per satu dengan debit yang semakin lama semakin cepat. Diletakkan kedua tangannya di depan mulut. Membekap erat agar tak terdengar Jinwoon, yang bisa saja membangunkan sang kekasih yang belum lama memejamkan mata.

Terdengar gesekan sepatu dengan lantai yang menarik perhatian Yongjoo. Setelah mengetahui dari mana suara itu berasal, ia langsung berdiri dan berlari. Menabrakkan diri ke dada bidang orang tersebut.

“Jun..Jun…,” hanya kata itulah yang mampu keluar. Yang mampu ia ucapkan saat ini. Lelaki yang dipanggil Jun memeluk balik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya tanpa bertanya lebih lanjut. Ia tahu bahwa yang diperlukan Yongjoo saat ini adalah sebuah sandaran. Sebuah pegangan agar tidak semakin jatuh terpuruk.

*

Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Jinwoon diperbolehkan pulang. Ia menjalani rawat jalan. Walaupun Yongjoo telaten dan mampu mengatur segala keperluan Jinwoon, ia memutuskan meminta bantuan orang lain karena tak bisa sepenuhnya berada di sana.

“Yonggie, kau di mana, sayang?” Itulah yang selalu Jinwoon ucapkan pertama kali setiap ia membuka matanya. Ia ingin memastikan bahwa sang kekasih berada di sampingnya.

“Yong—, ah ternyata kau, Min.” Jinwoon lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Untuk kesekian kalinya ia tak bertemu dengan Yongjoo.

“Mungkin dia sedang sibuk, Wonnie. Kau tak perlu khawatir.”

“Tapi…,”

“Tidak ada tapi-tapian, OK? Kau harus percaya padanya.” Jinwoon menganggukkan kepala walau dalam hatinya ia tetap merasa sedih dan kecewa.

Kau kemana, Yonggie? Mengapa kau tak menjengukku?

*

Manik coklat kehitaman itu terpantul sempurna. Sorot matanya redup. Tak bercahaya. Dipenuhi kabut mendung yang hampir menyamai keadaan ruangan di mana dirinya berada. Gelap. Sesuai keinginan sang pemilik ruangan.

Tubuh itu bersentuhan langsung dengan dinginnya lantai walaupun busana yang dikenakan menjuntai panjang hingga tumit. Kepalanya bersandar di depan cermin sedangkan kedua tangannya menggenggam erat bingkai keemasan yang penuh dengan ukiran acak berseni.

TES

Sebulir air mata mengalir jatuh bebas membentuh sebuah riak kasat mata.

 

TES

Sebulir berikutnya menyusul kemudian menciptakan hasil yang sama.

 

TES

Dan bulir-bulir berikutnya sudah tak dapat dihitung lagi.

 

Ia menggigit bibir bawahnya hingga lidahnya mampu merasakan rasa amis. Ia tak peduli karena luka itu tak sesakit yang berada di hatinya. Kadar oksigen di sekitar tersuplai banyak namun dadanya terasa sesak. Jantungnya terpacu cepat mengalirkan cairan merah yang bergerak di setiap nadi merata ke seluruh tubuh. Namun buku-buku jarinya memucat. Putih pias bagaikan makhluk dingin. Kuku panjangnya bergesekan menimbulkan suara nyaring tak berirama. Meninggalkan suara bising ‘tuk menutupi isakan halus yang masih setia keluar dari bibirnya.

 

“Mengapa aku yang terpilih?”

“Mengapa aku yang harus mengalaminya?”

“Mengapa aku tak bisa mengatasinya?”

“Mengapa…?”

“Mengapa…?”

.

Lelaki itu sejak awal memang hanya memperhatikannya dari jauh. Tak bergerak sedikitpun dari posisinya yang menopangkan kaki di sebuah sofa yang berada tak jauh. Kedua tangannya tersilang di depan dada. Tak berniat membalas satupun bisikan ‘mengapa’ yang menembus gendang telinganya. Itulah tanda kepeduliannya. Ia tak ingin memberitahukan kenyataan yang bahkan akan jauh lebih pahit untuk diketahui.

Mungkin orang-orang akan menganggapnya bahwa ia tak memiliki hati. Tidak. Tentu saja ia masih memiliki hati sehingga memutuskan berpindah tempat tepat di sampingnya. Tangan itu terangkat berusaha meraih wajah pucat yang berada di depan mata.  Jemari itu siap untuk menghapus setiap kesedihan yang mengalir. Manik itu berusaha menghantarkan segala keyakinan yang ia miliki. Memberikan seluruh kepercayaan kepada orang di depannya.

Tidak. Aku tidak boleh kalah lagi. Aku harus kuat. Ya, aku bisa.

Tangannya terkepal. Ditariknya kembali lengannya ke posisi asal di samping tubuh. Ia memutuskan untuk berdiri, berpindah posisi ke arah pintu. Dibaliknya sang badan untuk melihat orang itu untuk terakhir kali sebelum meninggalkan ruangan ini. Memastikan kondisinya baik-baik saja, walau berlawanan, sebelum akhirnya menghilang.

*

“Bagaimana keadaannya?” Suara itu langsung menyapa gendangnya. Ia menoleh sebentar sebelum mengalihkan pandangan kembali ke atas. Menatap lurus kepakan sayap yang bebas beterbangan menemani gumpalan kapas putih di langit sana yang bergerak-gerak siap berpindah tempat.

“Kau pasti lebih tahu, Jun. Kau yang lebih dekat dengannya dibandingkan aku. Seperti saat kita berada di tempat itu.”

“Kau…cemburu padaku?”

“Tidak. Tentu saja. Itu tak akan pernah terjadi, Jun.”

Jun tertawa geli. Menampilkan eye-smile andalannya. Berkebalikan dengan lelaki satunya yang memberikan death-glare. Andai saja tatapannya itu bisa membekap mulut lelaki itu atau mungkin lebih parahnya menghentikan kerja pacu jantungnya.

“Kau ingin membunuhku? Kau jahat sekali, Key.” Bukannya merasa takut, Jun malah terkekeh sendiri. Namun lama-kelamaan tarikan di bibirnya memudar. Berganti dengan tatapan serius yang begitu menusuk.

“Aku mengerti, Jun. Terlampau mengerti tapi apa yang harus kulakukan? Kau tahu kan bahwa kita tengah menjalani hukuman karena telah melakukan itu.”

.

Di lain tempat, Jinwoon hanya duduk termenung di atas kasur. Matanya hanya terfokus mengarah ke jendela. Mencari celah jikalau sosok yang sangat dirindukannya itu terlihat. Min sudah memperhatikan selama beberapa hari kalau Jinwoon lebih sering menghabiskan waktu seorang diri di kamar tanpa memedulikan kesehatannya. Menyebabkan pertahanan tubuh lelaki itu semakin berkurang.

Maaf, sepertinya aku tak bisa memenuhi permintaanmu.

Min pun beralih dari celah daun pintu yang terbuka. Melangkah pasti ke sebuah ruangan yang sudah lama tak terbuka. Menimbulkan derit karena engsel yang mulai berkarat. Langkah-langkah kecil mulai tercipta tatkala menemukan benda yang dicari. Disibaknya sang kain yang menutupi sehingga memperlihatkan sebuah benda berlapis kaca berbingkai keemasan yang masih terlihat bagus walau sudah dimakan umur. Maniknya memperhatikan lama sebelum ia memejamkan mata.

Visszatérni Megállítani.

*

Terdengar ketokan heels di sepanjang koridor yang dilewatinya. Menciptakan gema sampai ujung sepatu itu berhenti tepat di depan sebuah pintu. Dibukanya secara perlahan hingga menampilkan sosok seorang gadis yang terduduk di lantai. Bahunya bersandar pada cermin dengan posisi miring. Telapak tangannya terlihat mengelus pelan lapisan kaca itu. Sesekali kelopak itu mengerjap menumpahkan luapan air mata yang terbendung secara berkala. Tetes-tetes yang tak kunjung berhenti mengalir.

Oh, sungguh menyedihkan keadaan gadis di depan matanya. Rasa iba meliputi hatinya saat dirinya tengah berusaha mempersempit jarak. Menampakkan jelas mata kuyu sang gadis yang menyiratkan nestapa yang terpendam dalam.

“Collie-aa…,” desisnya pelan, “kumohon…berhenti menyakiti dirimu.” Suara lirih itu menggetarkan hati, menciptakan lelehan di sudut mata tajamnya. Cukup sudah ia melihat temannya itu menelan kepahitan dalam hidupnya.

Mengapa garisan hidupmu begitu sulit?

“Sampai kapan kau akan seperti ini, Collie? Tak cukupkah penderitaan yang kalian terima? Kau tahu persis seperti apa keadaannya—-” ia tak sanggup melanjutkan kata-kata yang mungkin akan semakin memperkeruh keadaan. Pedih tak kuasa ditahan melihat sang kawan menyiksa diri.

“Kau tak mengerti, Min. Kau tak mengalaminya.”

“Harapan itu masih ada, Min. Seperti halnya bulan yang selalu setia menanti datangnya pagi. Tak pernah lengkang oleh waktu.”

Min kehabisan kata-kata. Bibirnya terkatup rapat. Gadis di depannya itu menutup telinga rapat-rapat. Sengaja menulikan pendengarannya yang masih berfungsi dengan baik. Ia pun tak ingin lanjut berdebat karena ucapannya sudah dipastikan tak akan didengar. Ia kembali berdiri mengikuti bisikan halus di kepalanya. Menghilangkan keeksistensiannya di ruangan gadis itu.

.

“Percuma kau melakukannya, Min.” Suara itu yang menyapanya pertama kali begitu ia muncul di berlainan ruang. Gadis itu mendesah. Menggelengkan kepala tak mengerti menanggapi tingkah laku salah satu temannya yang tak pernah mau berubah.

“Aku sudah melakukannya jauh lebih dulu namun nihil. Bahkan Jun yang lebih dekat saja tak berhasil melakukannya.”

I will cut their connection. That’s enough for her.”

Are you sure? There’s any risk for them, right?

Ruangan itu kembali senyap. Memperdengarkan deru napas setiap individu yang tengah mengembara di alam pikirnya masing-masing.

*

 “Jinwoon-aa…” suara halus itu menggelitik pendengaran hingga kelopak itu terbuka lebar. Senyum merekah di bibir lelaki itu. Keinginan yang tertunda lama itu akhirnya terkabulkan.

“Akhirnya kau datang, sayang.” Tak ayal ia langsung memeluk gadisnya. Aroma vanila Dior Hypnotic Poison yang menguar dari tubuh Yongjoo langsung memenuhi rongga dadanya. Candu yang sudah tak dihirupnya sekian lama.

“Maaf aku baru mengunjungimu tengah malam begini.” Rasa bersalah kembali menghantui. Tak tega membohongi sang kekasih tapi tak mungkin juga ia mengatakan hal yang sebenarnya.

“Aku tahu kau sibuk,” tangannya membelai lembut pipi yang terlihat menirus, “tetapi kesehatan juga harus kauperhatikan. Lihat saja wajahmu pucat seperti ini.”

“Kata-kata itu kembali padamu, Jinwoon-aa. Kau yang—” Jinwoon langsung membungkam mulut Yongjoo hingga akhirnya mereka saling melumat pelan. Tautan bibir itu pun terlepas. Dahi mereka saling menempel, membuat keduanya dapat merasakan napas masing-masing.

“Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Yong. Selama kau berada di sampingku, itu sudah cukup.” Lagi dan lagi Yongjoo dibuat tercekat oleh kata-kata Jinwoon.

“Bisakah kau berjanji padaku, Yong?” Yongjoo semakin membenamkan wajahnya di dada Jinwoon. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

“A-aku…,” isakan itu mulai memenuhi kamar Jinwoon. Air mata kembali membasahi wajahnya, “tak bisa melakukannya. Maafkan aku.” Lanjutnya kemudian bersamaan dengan rengkuhan yang perlahan mengendur. Meninggalkan tangisan yang terus bergema seiring dengan rasa dingin yang menembus kulit.

*

Gelombang yang tercetak di ECG[1] mulai menunjukkan gerakan naik-turun secara cepat. Orang itu segera menekan nurse call[2]  dengan panik. Tak lama kemudian seorang dokter dengan beberapa perawat muncul dari balik pintu yang langsung memeriksa kondisi pasien.

Son Dongwoon—nama lelaki itu—menunggu dengan gelisah di luar. Rasa takut kembali menggelayut di pikirannya walaupun kejadian ini sudah beberapa kali terjadi. Ia meremas kedua tangannya yang berubah dingin. Kalimat-kalimat doa pun ia panjatkan dalam hati.

Kelopaknya terangkat ketika ia mendengar suara pintu yang terbuka. Ia membuang napasnya lega setelah mendengar penjelasan sang dokter. Kakinya melangkah memasuki ruang rawat. Berjalan mendekati pasien yang telah sadar sepenuhnya.

“Jinwoon-aa, akhirnya kau sadar juga.” Alih-alih rasa gembira, Dongwoon malah dibuat tercengang setelah mendengar sebuah nama. Membuatnya terdiam berdiri membeku di tempat.

.

Ketiga makhluk tak kasat mata itu berdiri di sudut ruangan tempat Jinwoon dirawat. Memperhatikannya sedari awal. Wajah mereka datar tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Akhirnya Megállítani hancur tak bersisa.”

“Bahkan sebelum kita memutus koneksi yang terjalin.”

“Kita melakukannya atau tidak, Nicole tetap kehilangan soulitries. Kekuatannya sudah terserap habis saat ia menciptakan az Világ[3] bukan?”

Making two dimension into one for her past lover. It was a stupid thing, isn’t it?”

“Apalagi itu adalah hal tabu bagi seorang Tuan Puteri yang seharusnya menjaga ketenteraman Kranzhiviola.”

“Key, Min, bisakah kita tak membahas masalah ini? Semuanya sudah terjadi.” Jun yang sedari tadi diam mulai bersuara dan menghilang beberapa detik kemudian yang disusul dua sisanya.

.

.

There’s a mirror showing me the ugly truth

I’m living in the changing times

But I got nothing to give, just a life to live

(Daniel Bedingfield – Every Little Thing)

 

 

-=END=-

 

 

[1] Electrocardiography: alat pengukur denyut jantung.

[2] bel pemanggil perawat; biasanya terletak di tempat tidur pasien.

[3] (Hungarian) dunia.

Advertisements

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s