T for Tears

T for Tears

“Di dalam mata yang berkaca-kaca, ada pedih tak terkata-kata dalam sanubari.”

~

            Layaknya sang merpati yang digunakan para penghuni bumi yang berkedudukan paling tinggi di antara lainnya, menyampaikan ratusan hingga ribuan huruf membentuk kata-kata yang telah disusun sedemikian rupa oleh sang pengirim. Menghantarkan pesan yang ingin disampaikan, mengungkap perasaan kepada sang penerima.

.

.

.

            Seorang remaja lelaki—berambut pirang, berkulit seputih susu, dan memiliki tubuh yang terbilang tinggi—berdiri seorang diri di tengah keramaian. Memandang jauh ke dalam dari bilik transparan yang berada di dekatnya. Bola matanya mengikuti ke manapun sang objek bergerak.

Bagaikan sebuah pasak yang ditanam jauh ke dalam lubang. Kakinya tak beranjak dari tempat di mana dirinya berpijak. Bagaikan sebuah patung seni yang dipajang di museum. Orang yang berlalu lalang tak bisa menghindari untuk tak mengagumi karya Tuhan yang terpahat mendekati kata sempurna. Mata indah, hidung mancung, bibir tipis; membuat beberapa di antara mereka menginginkannya. Namun tak seorangpun yang berhasil menarik perhatian anak lelaki berambut pirang itu.

Kecuali dia.

Sosok yang mempunyai magnet tersendiri. Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona yang terpancar darinya. Kepribadiannya yang terbuka membuat sosok itu terlihat bersahabat, terutama senyum yang selalu terukir di bibirnya. Itu adalah hal terindah dari seluruh yang pernah seorang Sehun lihat selama dua puluh tahun ini. Belum ada yang mampu mengalahkan, belum ada yang mampu menyainginya.

Bibir tipis itu mulai bergetar. Mungkin isak tangis dapat terdengar jika tak ditahan sang pemilik dengan menggigitnya kuat-kuat. Setitik, dua titik, noda kemerahan mulai terlihat samar. Manik bening itu mulai berkaca-kaca. Dipenuhi berbagai perasaan yang terkandung di dalamnya.

Ingin kaki itu berlari. Ingin tangan itu meraih. Tapi…semua itu hanya keinginan semata. Kemampuan yang tak dapat dilakukan begitu saja. Layaknya ada sesuatu tak kasat mata yang seolah-olah menghalangi.

Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan membentuk aliran sungai kecil di pipi tirusnya. Sehun memukul dadanya yang terasa sesak, berharap rasa sakit itu segera menghilang dari sana.

“Lu….”

Satu kata. Terucap berulang kali. Mungkin bagi kebanyakan orang itu tak ada artinya namun bagi seorang Oh Sehun, itu lebih dari segalanya.

“Aku merindukanmu, Lu.”

Satu kalimat yang mewakili sebagian atau mungkin seluruh perasaannya yang tak mampu diungkapkan secara langsung.

Tidak. Sudah cukup rasa itu memenuhi dadanya. Mendesak keluar agar terbebas dari segala kekangan yang menghalangi. Kecil namun berefek besar. Layaknya ribuan jarum yang menusuk-nusuk.

Hingga akhirnya Sehun memutuskan pergi. Berlari sejauh mungkin. Terlalu larut dalam kegelisahan tak berujung hingga ia tak menyadari bahwa sosok itu sudah memperhatikannya sejak lima menit lalu.

Dalam keadaan yang tak berbeda jauh. Kesedihan terlihat begitu jelas di bola mata kecoklatan itu. Dan hanya satu yang mampu ia ucapkan,

“Sehun—”

Tetesan air mata pun mulai berjatuhan.

“—aku juga merindukanmu.”

.

.

.

I don’t know how to describe something inside me

Seems like that make my fragile hearts

To tell you the whole true feeling is so difficult

I hope you could still give me back my wish

Long time to recalling the past words

Long time to realize the meaning behind of

Long time to learn to appreciate something important

Old time…oh I miss you so so much

Visualize the real you in front of me

Everytime I close my eyes

Your silhoutte so close but I can’t embrace it

One thing that I’ll ever need in my life is…

U

 

 

Well, uda lama banget ini ga apdet bahkan sarang laba-laba bertebaran di mana-mana. Maaf juga kalo postingannya bikin tambah galau. Mungkin sebagian besar uda tau tentang berita exo kemarin. Luhan adalah bias saya dan ketika dia memutuskan keluar, membuat saya terpukul hingga mata bengkak. Uhhh, mungkin ada beberapa di antara kalian yang mengatakan saya berlebihan. Tapi itulah yang memang saya rasakan. Sedih. Sakit. Rasanya pengen teriak “kenapa sih harus keluar?” tapi mau gimana lagi. Luhan punya kehidupannya sendiri dan saya sebagai fans hanya bisa mendukung dan menerima keputusannya. Pasti itu juga keputusan sulit baginya. Apalagi alasan di baliknya (statement dari Sina). Pokoknya berharap yang terbaik.

Rest well, Lu. I love you too and HunHan keep forever in my heart.

Advertisements

One Reply to “T for Tears”

  1. Kak sumpah aku tau aku ga kalah alay tp beneran deh aku nangissss baca ini:( aku juga sama, aku juga mikir kalo Sehun jelas terpukul sama ini. Dia orang yang deket banget sama luhan di exo;((

    ah nggak bisa jelasin perasaanku dg kata-kata, sakitnya terlalu nancepp ;(( cuma berharap yang tebaik buat luhan dan keputusannya, semoga kesehatannya pulih meski mataku belum mau berhenti ngalirin air mata:(( hiks

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s