B for Brothership

6f22037ajw1el1vqdo08oj20rs15ogsn

~

Kerlap-kerlip cahaya putih yang terbentang di depan mata membaur dengan warna lain yang terpancar dari papan lampu yang diangkat. Terutama kumpulan lautan 鹿 yang berwarna kuning. Sebuah dukungan para fans yang terlihat begitu menyatu. Sorakan hingga jeritan mereka yang berusaha terdengar sekeras mungkin agar sampai ke telinga idola masing-masing.

Satu per satu lagu itu kami lantunkan. Dinyanyikan bersamaan dengan para fans yang memenuhi stadium tempat konser dilaksanakan. Canda tawa diperlihatkan kepada mereka yang masih menemani dan memberikan dukungan hingga saat ini.

Namun tidak dengan Luhan.

Hatinya menjerit. Rasa bersalah memenuhi hampir seluruh indera miliknya. Bagaimana ia berusaha tetap tersenyum namun sekuat apapun ia bertahan, akhirnya akan mencapai batas. Matanya mulai perih, berkaca-kaca hingga setetes dua tetes berjatuhan membasahi pipi putihnya dan secara cepat ia berusaha menghapusnya. Atau bagaimana ketika ia secara tiba-tiba terjatuh saat menari .

Namun kenyataan jauh daripada itu. Aku sadar dan tahu alasan di balik itu semua. Tak kupungkiri aku pun merangkul pundak Luhan. Bahkan sangat erat. Seolah menyalurkan kekuataan kepadanya.

Aku berusaha tak menangis. Tak ingin seperti saat dulu melakukan syuting Happy Camp. Aku berusaha setegar mungkin hingga penutupan. Bagaimana Luhan yang terus melambaikan tangan kepada fans dan membungkukkan badan terus-menerus. Aku terus menahan gejolak perasaan yang bercampur aduk.

Dan ketika kami semua kembali ke backstage, akhirnya pecah juga pertahananku. Luhan langsung memeluk tubuhku, membisikkan kata-kata penghiburan. Namun semuanya tak bisa menutupi lubang yang semakin terbuka lebar.

“Maafkan aku, Yixing.” Bisikan-bisikan itu terus keluar dari bibirnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakannya sejak berada di atas panggung.

“Setelah Kris Ge, mengapa aku juga harus kehilanganmu?”

Rasanya ingin bersikap egois, membujuk agar Luhan membatalkan keputusannya. Tapi aku juga tak ingin melihatnya menderita sakit terus-menerus. Seolah aku memang tidak diberikan pilihan sama sekali.

Tak ada kata-kata yang terucap setelahnya. Kami hanya saling berpelukan hingga member lain turut bersatu. Terlihat jelas kami semua tak ingin melepas kepergiannya. Tak ingin membuat hari ini menjadi pertemuan terakhir.

 
 

credit picture: Little Prince

Tolong, ingat ini adalah sebuah fanfiction. Hanya karangan belaka yang terlintas di otakku. Aku nggak tahu gimana kenyataan yang sebenarnya terjadi. Thanks
Advertisements

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s