Memory Lost

Memory Lost

credit picture as tagged

***

Jemari panjang nan lentik itu bergerak di atas tumpukan debu tak tersentuh. Menggapai gurat demi gurat memori yang tersimpan rapat. Menyulur benang-benang ingatan yang terkandung di dalamnya. Menarik gumpalan kabut yang menghalangi ketika kristal bening perlahan mengenai permukaan.

 

Aku melihatnya dibully oleh sekumpulan lelaki yang berbadan lebih besar dari anak itu. Aku tak mengenalnya tapi hati ini tergerak ingin menolong. Tanpa berpikir panjang dan entah mendapat kekuatan dari mana, aku menerjang salah satu dari mereka hingga terjatuh.

Seketika mereka terdiam. Mengalihkan pandangan menusuk padaku. Kedua tanganku terkepal erat menahan rasa takut. Hati ini seakan menertawakan kebodohan akan spontanitas yang kulakukan. Ingin kubergerak mundur. Lari dari kepahlawanan yang belum tentu mendapat tanda jasa.

Namun kaki ini terpatri kuat. Beku tak mampu bergerak. Pikiranku hendak memarahi kedua tungkai yang menopang tubuh mungil ini.

Tetapi kedua bola mata bening yang memohon pertolongan seakan menambah rasa percaya diriku. Dan dari sanalah, pertemuan pertama kami terjadi.

 

Setapak demi setapak, kakinya mulai melangkah. Menambah rasa sesak yang tak tertahankan. Seakan meremas inti tubuh hingga menyakiti rongga dada. Sebuncah perasaan yang mengumpul menjadi satu. Menghitung mundur bom waktu yang siap meledak.

 

“Kapan Luhanie akan mengajari Sehunie bermain bola? ‘Kan Sehunie ingin menemani Luhanie.” ucapku dengan nada penuh permohonan. Namun hanya dibalas dengan senyum manis miliknya tanpa satu kata pun terucap dari bibir mungil itu.

“Suatu saat, Sehunie. Ketika Sehunie sudah bisa mengajari Luhanie menari.”

 

Pemuda itu memandang ujung ruangan dimana terdepat sebuah benda bundar hitam putih secara bergilran. Penyesalan mulai bermunculan. Merambat hingga ke seluruh tubuh. Menusuk bagaikan jarum tajam hingga ke sendi-sendi. Tak merasa sanggup, tubuh ringkih itu jatuh perlahan. Berlutut memeluk erat benda penuh kenangan.

 

Aku berlari secepat yang kumampu. Tak mengindahkan orang-orang yang tak sengaja tersenggol. Hanya satu yang menjadi tujuan. Segera mencapai ruangan dimana tubuh itu terbaring.

Dengan napas yang masih tersengal, aku bertanya tentang kejelasan kejadian itu walau hanya sebagian yang mampu kutangkap. Ingin kumemarahi mereka, namun tak mengetahui letak kesalahan yang sebenarnya. Ingin kumenangis karena merasa diri ini telah lalai akan janji yang kuucapkan padanya.

Terperosok duduk di atas permukaan lantai licin nan dingin, dagu yang tertopang kedua lutut dengan tangan yang melingkar di sekitarnya; aku menatap sepasang pintu putih dengan harapan lampu merah di atasnya segera padam. Menampakkan wajah dokter dan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Namun kenyataannya berbalik dari harapan.

 

“Lu…,”

“Andaikan saja, Lu, andaikan…,”

“Sehun, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua bu—,”

“KAU TAHU APA, JUNMYEON HYUNG! KAU JELAS TAHU ITU SALAHKU!”

Emosi Sehun meledak seketika. Teriakan demi teriakan menggema di ruangan tersebut. Junmyeon, sang kakak pun menyerah. Ia hanya bisa berusaha sabar menghadapi tingkah adiknya yang tak terduga.

“Andai saja aku bisa mengingatnya, Hyung. Andai saja aku mengenalinya…, jauh sebelum dia pergi, Hyung. Jauh se—,” tetes demi tetes air mata itu kembali berjatuhan, “—belum Luhan meninggalkanku untuk selamanya.”

 

Ya Tuhan udah lama banget ini ga muncul di peredaran. Ya Tuhan saya juga kangen HunHan. huahahahahiks ((abaikan)) Betewe maafkan kalau sedikit aneh berhubung udah lama banget ga nulis. Mohon dimaklumi ya. Thanks 🙂
Advertisements

Give me your review~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s